Jumat, 16 April 2010

Taman Penitipan dan Pendidikan Anak Usia Balita di Semarang

1.1 Latar Belakang
Pendidikan yang di mulai pada masa usia taman kanak-kanak sudah dianggap terlambat saat ini. Menurut hasil penelitian, pada usia empat tahun pertama, separuh kecerdasan manusia sudah mulai terbentuk. Artinya, kalau pada usia tersebut anak tidak mendapat rangsangan atau stimulus yang maksimal, maka potensi otak anak tidak berkembang secara optimal. Secara keseluruhan sampai pada usia delapan tahun 80% kapasitas kecerdasan manusia sudah terbentuk. Artinya kapasitas kecerdasan anak hanya bertambah 30% setelah usia empat tahun hingga delapan tahun. Selanjutnya kapasitas kecerdasan anak tersebut mencapai 100% pada usia sekitar 18 tahun.
Keluarga sangat berperan dalam memberikan stimulus untuk perkembangan otak anak. Namun fenomena yang kita saksikan sekarang ini berbeda dari yang seharusnya. Percepatan perubahan tatanan social budaya dalam masyarakat modern di tandai dengan bergesernya fungsi dan peran keluarga. Banyaknya wanita yang tidak hanya berperan sebagai pendamping suami dan pengasuh anak dalam keluarga tapi juga sebagai pencari nafkah telah membuktikan adanya pergeseran funghsi dan peran keluarga. Alasanseorang wanita bekerja antara lain adalah factor ekonomi, untuk mengatasi kebosanan dan kesepian dirumah, keinginan untuk bersosialisasi, mengejar karir, status, dll. Data statistic menunjukkan sekitar 52,28% istri bekerja. Hal ini mengakibatkan anak-anak tidak memperoleh kasih sayang secara penuh sehingga kebutuhan dasar anak untuk proses tumbuh kembangnya tidak terpenuhi secara optimal. Mengingat anak-anak tidak hanya sebagai potensi utama bagi masa depan bangsa, cikal bakal penerus bangsa tetapi juga sebagai individu yang diharapkan memiliki daya saing tinggi maka sudah sewajarnyalah kebutuhan anak untuk tumbuh dan berkembang dipenuhi secara maksimal.
Berdasarkan hal tersebutlah dibutuhkan suatu wadah yang dapat menampung anak-anak sekaligus sebagai sarana yang dapat meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak melalui pelayanan pengasuhan dan pendidikan berupa “Taman penitipan dan Pendidikan Anak Usia Balita”
Taman Penitipan dan Pendidikan Anak Usia balita tersebut harus menyediakan layanan perawatan serta pengembangan anak usia balita baik dari segi pengasuhan, pendidikan, gizi maupun kesehatan.

1.2 Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai yaitu merencanakan dan merancang Taman
Penitipan dan Pendidikan Anak Usia Balita di Semarang, sebagai fasilitas
pendidikan, yaitu:
Ø Pendidikan nonformal, yaitu kelompok bermain (play group) dan taman
penitipan anak (children day care), serta
Ø Pendidikan formal bagi anak usia dini yaitu TK, yang sesuai dengan standar
yang ada dan sesuai dengan kebutuhan sebagai ruang kelas, ruang latihan
dan ruang pengasuhan anak serta ruang bermain. Taman Penitipan dan Pendidikan Anak Usia Balita di Semarang yang direncanakan diharapkan dapat memenuhi fungsinya dengan baik sebagai fasilitas pendidikan anak usia balita, fasilitas taman bermain, fasilitas pemantauan kesehatan anak, serta fasilitas pengasuhan dan penitipan anak.

2. Sasaran Tersusunnya usulan langkah-langkah pokok (dasar) perencanaan dan perancangan Taman Penitipan dan Pendidikan Anak Usia Balita di Semarang berdasarkan atas aspek-aspek panduan perancangan yang berguna sebagai acuan/pedoman dalam penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur.

1 .3 Manfaat
1. Secara Subjektif
Untuk memenuhi salah satu persyaratan mengikuti Tugas Akhir di Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro dan selanjutnya sebagai landasan dan acuan dalam penyusunan Laporan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) sebagai bagian dari Tugas Akhir.
2. Secara Objektif
Dapat bermanfaat sebagai tambahan pengetahuan dan wawasan, baik bagi
mahasiswa yang akan mengajukan proposal Tugas Akhir maupun mahasiswa
Arsitektur yang lain dan masyarakat umum yang membutuhkan.

1.4 Ruang Lingkup Pembahasan
1. Ruang Lingkup Substansial :
Meliputi perencanaan dan perancangan Taman Penitipan dan Pendidikan Anak Usia Balita di Semarang yang termasuk dalam kategori bangunan tunggal, yang berfungsi sebagai fasilitas yang memberikan pelayanan pendidikan formal dan nonformal, yaitu berisi kegiatan anak-anak yang membutuhkan ruang pendidikan, pengembangan kemampuan serta kreativitas anak dan pengasuhan anak. Masalah yang berada di luar lingkup arsitektural akan dibahas secara garis besarnya saja.
2. Ruang Lingkup Spasial :
Perencanaan dan perancangan Taman Penitipan dan Pendidikan Anak Usia Balita di Semarang meliputi lingkup lokal kawasan kota Semarang, Propinsi Jawa Tengah yang terbagi menjadi 10 bagian wilayah kota (BWK).

1 .5 Metoda Pembahasan
Metode pembahasan yang digunakan dalam penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) yang berkenaan dengan judul Taman Penitipan dan Pendidikan Anak Usia Balita di Semarang ini adalah melalui metode deskriptif. Metode ini memaparkan, menguraikan dan menjelaskan
mengenai design determinant (penentuan/syarat desain) dan design requirement (kebutuhan desain) terhadap perencanaan dan perancangan Taman Penitipan dan Pendidikan Anak Usia Balita di Semarang. Adapun design requirement dan design determinant yang berkaitan dengan perencanaan dan perancangan Taman Penitipan dan Pendidikan Anak Usia Balita di Semarang diantaranya adalah pemilihan lokasi
dan tapak serta program ruang. Berdasarkan design determinant dan design requirement ini nantinya akan
ditelusuri mengenai data-data yang diperlukan dalam perencanaan dan perancangan Taman Penitipan dan Pendidikan Anak Usia Balita di Semarang. Data yang terkumpul kemudian akan dianalisa dengan bahan, alat, dan cara penganalisaan sesuai dengan kriteria yang akan dibahas. Dari hasil penganalisaan ini akan didapat
suatu kesimpulan, batasan, dan juga anggapan secara jelas mengenai perencanaan dan perancangan Taman Penitipan dan Pendidikan Anak Usia Balita di Semarang.

Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data, akan diperoleh data yang kemudian akan dikelompokkan kedalam 2 kategori yaitu;

1. Data primer

Ø Observasi lapangan
Dilakukan dengan cara pengamatan langsung melalui studi kasus di wilayah lokasi dan tapak perencanaan dan perancangan taman penitipan dan pendidikan anak usia balita di semarang.
Ø Wawancara yang dilakukan dengan pihak-pihak yang terkait dalam perencanaan dan perancangan taman penitipan dan pendidikan anak usia balita di semarang.

2. Data sekunder

Diperoleh dari studi literatur melalui buku dan sumber-sumber tertulis mengenai perencanaan dan perancangan bangunan pendidikan dan perawatan untuk anak usia balita.

Perencanaan dan Perancangan

1. Pemilihan lokasi dan tapak
Mengumpulkan data yang dibutuhkan, adapun datanya;
Ø Data primer, data hasil observasi lokasi dan tapak pada wilayah perancangan.
Ø Data sekunder, data tata guna lahan atau persyaratan bangunan yang dimiliki oleh lokasi perancangan.
2. Program ruang
Mengumpulkan data-data mengenai pelaku ruang, beserta kegiatan yang berkaitan dengan perencanaan dan perancangan taman penitipan anak usia balita di semarang. Adapun data yang dimaksud;
Ø Data primer, data hasil observasi dan wawancara tentang jumlah pelaku atau pengguna.
Ø Data sekunder, data populasi atau jumlah usia balita dan jumlah tempat penitipan anak yang ada di Semarang. Data kebutuhan ruang serta ruang yang disyaratkan berdasarkan standar perancangan.

Link ;http://eprints.undip.ac.id/1346/
Tahun; 28 Oct 2009


Anggota Kelompok ;
08-038 Asda Pardosi
09-062 Yuni Asmidar
09-094 Ratna Juwita Rambe

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar